Thursday, September 24, 2026

Mindfulness


Ada dua buku yang menurut saya isinya cukup bagus. Bagus yang saya maksud adalah memberikan sudut pandang baru dalam memandang dan menjalani kehidupan. Setidaknya itu yang saya ingat saat pertama kali membaca kedua buku tersebut di sekitaran 5 tahun yang lalu.

Kedua buku yang saya maksud adalah “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” dan “Filosofi Teras”. Secara fundamental, kedua buku tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu mengajarkan bagaimana meraih kedamaian dan ketangguhan mental dengan cara mengendalikan fokus pikiran. Kalau menggunakan bahasa sekarang, mindfulness, istilahnya.

Keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda. Filosofi Teras menggunakan pendekatan filsafat klasik-stoisisme sementara Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat menggunakan pendekatan psikologi modern. Dan walaupun berbeda pendekatan, keduanya termasuk buku yang mudah dipahami. Ya meskipun secara praktik, bisa saya bilang kalau isi keduanya adalah hal yang paling sulit untuk diaplikasikan.

Dan ternyata, di Indonesia banyak yang meminati kedua buku tersebut. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat laku lebih dari empat ratus ribu eksemplar. Dan buku Filosofi Teras, terjual lebih dari lima ratus ribu copy.

Sunday, September 20, 2026

Kenapa Gaboleh Jahat di Tempat Kerja


Ada yang bertanya, “kenapa kita gaboleh jahat di tempat kerja?”

“Lha memangnya kita boleh jahat di tempat lain?”, jawab yang lain dengan pertanyaan yang hampir serupa.

Kita gaboleh jahat di tempat kerja. Kita gaboleh jahat di sekolah. Kita gaboleh jahat di lingkungan tempat kita tingga. Dan kita memang gaboleh jahat dimanapun kita berada. Kita seharusnya baik, bukan jahat.

Dan mungkin satu lagi. Saat ada yang bekerja sudah di taraf untuk memperkaya diri dan atau membiayai gaya hidup. Sebagian yang lain masih ada yang bekerja sebatas hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Monday, September 7, 2026

Aku Orangnya Emang Gini

Ada satu kalimat yang mungkin suka diucapkan oleh orang yang tidak mau berbenah, “aku orangnya emang gini”.

Seolah sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orang lain untuk bisa memahami.

Seolah bahwa karakter atau perilaku adalah hal yang tidak bisa diubah.

Seolah bahwa orang lain harus bisa menerima

Seolah orang lain harus mau menolerir karakter dan sikapnya

“aku orangnya emang gini”, kalimat yang diucapkan orang yang erkesan teguh pendirian, walaupun sebenarnya hanya ingin diterima atau ditinggal dengan memaksa.

Kalimat yang diutarakan oleh orang yang beranggapan bahwa seolah dunia hanya ada dua pilihan, take it or leave it.

Tuesday, September 1, 2026

Kenapa Manusia Merusak

Dalam buku sapiens, Riwayat Singkat Umat Manusia, terdapat penjelasan ringkas kenapa manusia bersifat merusak, kejam, dan berbahaya.

Sapiens (manusia) baru menjadi pemuncak rantai makanan kurang lebih 100.000 tahun yang lalu.

Pemuncak rantai makanan yang lain seperti singa dan hiu, mencapai posisi puncak rantai makanan secara bertahap dan butuh waktu selama jutaan tahun.

Proses yang bertahap dan lama memungkinkan alam dan ekosistem untuk beradaptasi dan menciptakan keseimbangan sehingga baik singa maupun hiu tidak menyebabkan kerusakan yang terlalu besar.

Sementara, manusia mencapai puncak rantai makanan dalam waktu yang sangat cepat sehingga lingkungan tidak dapat menyesuaikan diri.

Riwayat bahwa manusia pernah berada di posisi tengah rantai makanan membuat manusia menjadi penuh ketakutan dan kecemasan. Dua perasaan yang membuat manusia menjadi dua kali lebih kejam dan berbahaya.

Sumber Kecerdasan

Bahwa kecerdasan bukan hanya dari sekolah, saya rasa kita harus bersepakat dengan pernyataan tersebut. Apalagi dengan semakin sadarnya orang-orang bahwa kecerdasan ada banyak macamnya.

Aneka macam kecerdasan yang meliputi linguistik, logic-matematik, visual-spasial, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, musikal, naturalis, dan eksistensial, di belahan dunia manapun, sangat mungkin bahwa kecerdasan-kecerdasan tersebut bukan hanya berasal dari sekolah.

Kita tahu bahwa Thomas Alva Edison adalah salah seorang penemu paling produktif yang memiliki lebih dari 1.000 paten. Dan perlu diketahui, Thomas Alva Edison hanya bersekolah selama 3 bulan. Mungkin waktu bersekolah yang sebentar tersebut membentuk kecerdasannya. Tapi pastilah semua kecerdasan yang ia miliki tidak hanya berasal dari sekolah.

Dan yang paling baru, tentu saja adalah Pak Bahlil. Setidaknya itu yang diakui oleh Presiden Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.

Berdasar apa yang telah dicapai Pak Bahlil hingga kini, dapatlah disimpulkan bahwa beliau adalah orang yang cerdas. Dikombinasikan dengan informasi bahwa Pak Bahlil bersekolah di sekolah yang tidak terlalu terkenal, maka kecerdasan bukan hanya berasal dari sekolah adalah sebuah kesimpulan yang valid.

Namun demikian, bukan berarti fungsi sekolah dalam melahirkan, memupuk, dan mengembangkan kecerdasan boleh diabaikan. Mungkin tidak semua orang menjadi cerdas dengan bersekolah. Tapi, banyak orang yang menjadi cerdas dari bersekolah. Ya, hanya karena ada satu dari sepuluh orang yang tidak menjadi cerdas dari bersekolah, jangan abaikan bahwa ada sembilan orang yang menjadi cerdas karena bersekolah.

Sunday, May 24, 2026

Tuhan, izinkan kami menjadi saksi

Tuhan,
kami tidak akan seperti malaikat
yang mempertanyakan kuasa-Mu
memilih makhluk perusak
dan penumpah darah sebagai khalifah.

Kami juga tidak akan seperti iblis
yang membantah perintah-Mu
dan mengingkari kepemimpinan manusia.

Tapi Tuhan,
izinkan kami menjadi saksi
di kehidupan berikutnya nanti.

Izinkan kami bersaksi,
bahwa sifat merusak pada manusia itu
memang nyata adanya.

Kami akan bersaksi bahwa
rasa cukup
sepertinya tidak pernah menjadi sifat manusia.

Tempat tinggal kami hilang.
Makanan, semakin sulit kami dapatkan.
Dan bentuk-bentuk rezeki lain
yang Engkau janjikan,
perlahan dirampas oleh mereka punya tangan-tangan.

Air yang seharusnya menghilangkan dahaga,
kini berubah menjadi salah satu pembunuh paling berbahaya.

Tuhan,
semua ini kuasa-Mu.
Semua ini kehendak-Mu.

Dan sekali lagi kami mohon,
kehendaki kami
untuk menjadi saksi
di kehidupan berikutnya nanti.

Tuesday, May 5, 2026

Sorry Ye

Mungkin anda adalah seorang pemaaf. Orang yang sangat toleran. Bisa memaklumi, memaafkan, bahkan melupakan kesalahan orang lain. Sampai Anda berpikir, orang lain pun juga demikian. Anda merasa orang lain seperti Anda. Anda menjadi sembarangan. Merasa bahwa menjadi menyebalkan atau membuat kesalahan, orang lain pun akan memaklumi, akan memaafkan, akan melupakan.

Dan saat ternyata orang lain tidak seperti Anda, Anda justru merajuk. Merasa bahwa orang lain sensitif, baperan, serta tidak bisa diajak bercanda. Yang Anda lupa, Anda bukan standar untuk semua. Bukan pusat semesta.

Sesuatu yang di luar, belum Anda tahu dan rasa, itu ada.