Tak kusangka akhirnya kulakukan kembali hal yang kusuka setelah hiatus sekian lama. Mengolah kata-kata dan menyusunnya menjadi tulisan walaupun sederhana. Menulis, salah satu hal sederhana yang saya suka. Ingat, suka, bukan jago melakukannya.
Begitu pesat dunia digital mengalami perkembangan. Sayangnya, olehnya dengan mudah saya dikalahkan. Hal yang seyogyanya bisa dimanfaatkan hanya saya jadikan sarana hiburan. Dan berakhir, begitu banyak peluang yang terlewatkan.
Ya, saya kalah telak dalam pertempuran.
Gagal memanfaatkan peluang adalah sekecilnya kekalahan. Karena kekalahan terbesar adalah kemunduran akibat terlalu sering mengonsumsi hiburan.
Apa yang dikatakan para ahli tentang fenomena atau kondisi bernama “brain rot” atau kebusukan otak mungkin yang sedang kualami. Atau mungkin kita alami. Tentu saja bukan busuk secara harfiah. Tetapi tentang penurunan fungsi otak termasuk fokus dan kognitif.
Tujuanku menulis tentu saja sederhana. Agar otak dipakai untuk keperluan semestinya, bekerja. Berpikir adalah tanda otak bekerja. Menulis, sesederhana apapun tulisan, butuh otak yang bekerja, baik dipaksa ataupun sukarela.
Saya menulis, seperti para komika atau stand up comedy-an membuat materi. Dari keresahan. Kalau mereka resah dengan kondisi dan situasi sehari-hari yang mereka jumpai. Sementara saya, keresahan akan diri saya sendiri.
Resah akan mengalami penuaan dini. Penuaan dini pada kulit wajah tentu saja skincare bisa atasi. Lalu bagaimana kalau penuaan dini di ranah kognisi?
Tidak untuk keabadian seperti pada kutipan kutipan. Saya kembali menulis hanya sebagai bentuk perlawanan.
Perlawanan sederhana, tidak hebat, tetapi berat.
No comments:
Post a Comment