Brainrot atau orang menyebut kebusukan otak adalah kondisi ketika fungsi otak sudah mulai menurun. Berbeda dengan demensia (pikun) yang lebih disebabkan karena masalah medis seperti neurodegeneratif atau kerusakan vaskular, brainrot lebih disebabkan oleh faktor kebiasaan. Kebiasaan yang menjadi penyebab utama brainrot adalah scrolling media sosial ataupun konsumsi vidio-vidio pendek yang tidak berfaedah. Atau orang biasa menyebut konten receh.
Paparan vidio pendek atau informasi yang melompat-lompat dalam waktu yang relatif singkat ternyata dapat menjadikan orang sulit fokus dalam waktu yang lama. Konten hiburan receh yang dikonsumsi menghasilkan dopamin instan yang membuat otak terbiasa untuk dapat kesenangan tanpa perlu melakukan perjuangan, bentuk perjuangan dalam hal ini tentu saja adalah berpikir.
Sulit untuk fokus. Sekadar fokus saja sulit apalagi fokus dalam waktu yang lama. Menurunnya kemampuan untuk berpikir mendalam termasuk berpikir kritis, analitik, dan kreatif. Dan juga menjadi lebih mudah cemas serta gampang marah, adalah beberapa tanda orang terkena brainrot.
Sayangnya, saya merasa tanda-tanda tersebut sudah ada dalam diri saya.
Untungnya, brainrot adalah penurunan fungsi yang sifatnya sementara. Bukan seperti demensia yang bersifat permanen. Namun demikian, tentu saja brainrot perlu dilawan agar tidak menjadi penurunan yang permanen. Atau setidaknya, harus dilawan agar penurunan fungsi otak dapat ditekan dan dikembalikan itu fungsi otak ke kondisi optimal.
Dan inilah beberapa hal yang sedang saya lakukan atau saya perjuangkan untuk melawan brainrot ini.
1. Membatasi Scrolling Sosial Media
Ini adalah cara yang paling ampuh mengingat penyebab brainrot yang paling besar adalah scrolling sosial media. Mungkin lebih baik kalau bisa menghentikan sepenuhnya scrolling sosial media. Tetapi sayang juga mengingat di sosial media juga banyak konten edukatif dan pengembangan diri yang bagus sebagai bekal untuk menjalani hari di zaman yang serba digital.
Yang saya lakukan adalah, hanya membuka sosial media di jam yang sudah saya tentukan. Ambil contoh, jam dua belas sampai setengah satu siang, dan jam tujuh sampai setengah delapan malam. Sudah tidak ada lagi kerja sambil scrolling, makan sambil scrolling, nonton drakor sambil scrolling, bahkan scrolling sambil scrolling.
2. Membaca Buku
Membaca buku, baik fisik ataupun digital terbukti mampu meningkatkan kemampuan analisa, logika, dan fokus dalam waktu yang relatif lama. Pengetahuan atau bahkan pemahaman yang ingin kita raih dari membaca, hanya akan hadir saat kita fokus pada bacaan. Membaca buku adalah latihan fokus disamping aktivitas membaca juga membuat saya harus melawan godaan untuk membuka gawai.
Jika membaca mungkin adalah melawan brainrot dengan pasif, maka menulis adalah bentuk perlawanan aktifnya. Menulis membutuhkan fokus yang sedikit lebih tinggi dari membaca. Selain itu, menulis butuh proses berpikir aktif, bahkan berdialektika dengan diri sendiri. Merangkai kata adalah proses berpikir. Menyusunnya menjadi memiliki makna adalah berpikir yang sudah naik level. Dan saya, kembali melakukan aktivitas menulis ini salah satunya untuk tidak tunduk pada overstimulus konten di sosial media.
4. Ngobrol
Dengan siapa saja. Bahas apa saja. Tetapi lebih baik kalau pembahasannya adalah tentang pengalaman, tentang pengetahuan, tentang ide-ide. Bukan sekadar gosip orang. Dalam obrolan ringan, saya pastikan mendengarkan ketika lawan bicara sedang menjelaskan. Saya benar-benar memperhatikan. Bukan yang diam saya hanya sebatas menunggu giliran untuk bicara.
5. Olahraga
Saya rasa kita semua tau tentang manfaat olahraga. Saya suka lari atau jalan-jalan. Saya juga suka olahraga di rumah saja. Sekadar sit up, push up ataupun membuka vidio aerobik biasa saya lakukan di rumah. Selain merasa lebih segar, menjadi tidak gampang capek, saya juga merasa lebih jernih dalam berpikir. Kalaupun hal terakhir tersebut hanyalah sugesti, maka tak apalah karena itu adalah sugsti yang positif.
Mungkin hal-hal tersebut yang saya gunakan untuk melawan brainrot. Kalau teman-teman memiliki cara atau metode lain yang digunakan, bisa juga untuk dibagikan.
No comments:
Post a Comment