Ada dua buku yang menurut saya isinya cukup bagus. Bagus yang saya maksud adalah memberikan sudut pandang baru dalam memandang dan menjalani kehidupan. Setidaknya itu yang saya ingat saat pertama kali membaca kedua buku tersebut di sekitaran 5 tahun yang lalu.
Kedua buku yang
saya maksud adalah “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” dan “Filosofi Teras”.
Secara fundamental, kedua buku tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu
mengajarkan bagaimana meraih kedamaian dan ketangguhan mental dengan cara
mengendalikan fokus pikiran. Kalau menggunakan bahasa sekarang, mindfulness,
istilahnya.
Keduanya
menggunakan pendekatan yang berbeda. Filosofi Teras menggunakan pendekatan
filsafat klasik-stoisisme sementara Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
menggunakan pendekatan psikologi modern. Dan walaupun berbeda pendekatan,
keduanya termasuk buku yang mudah dipahami. Ya meskipun secara praktik, bisa
saya bilang kalau isi keduanya adalah hal yang paling sulit untuk
diaplikasikan.
Dan ternyata, di Indonesia banyak yang meminati kedua buku tersebut. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat laku lebih dari empat ratus ribu eksemplar. Dan buku Filosofi Teras, terjual lebih dari lima ratus ribu copy.
Yang sedang ramai
dewasa ini, mindfulness dan stoisisme, justru dilabeli sebagai bentuk
ketidakpeduliaan. Mindfulness dicap sebagai bentuk apatisme, tidak peka, dan tidak
berempati. Bahkan ada yang menganggap bahwa stoisisme adalah gaya hidup yang
lahir dari kapitalisme.
Sedikit mengagetkan.
Bukan karena labelnya. Tapi karena yang saya anggap bagus dan saya coba
praktikkan, menurut pandangan orang lain adalah bentuk ketidakpedulian. Bentuk
tidak memiliki empati.
Saya yakin tidak
sendiri. Jika orang yang membeli buku Filosofi Teras juga membeli buku Sebuah
Seni untuk Bersikap Bodo Amat, maka setidaknya ada lebih dari lima ratus ribu
orang yang mempelajari hidup yang tidak peduli, abai, dan nir-empati.
Tapi seperti yang
sudah saya dipelajari. Omongan dan label orang adalah hak mereka. Koreksi orang
lain bisa kita jadikan bahan perbaikan atau juga kita abaikan. Tapi soal
mindfulness dan stoisisme, tidak seharusnya dinegasikan dengan kepekaan,
kepedulian, ke-empatian.
Karena stoisisme
dan mindfulness sejatinya sejalan dengan empati. Stoisisme tidak menegasikan
kepedulian. Stoisisme dan mindfulness justru bisa membuat kepedulian menjadi
lebih terukur dan terarah.
Ya, memang beberapa
kondisi adalah privilege untuk lebih mudah menerapkan stoisisme dan mindfulnes.
Tapi, kalau misalnya memberi label karena kondisi privilege tertentu,
sepertinya kita semua perlu belajar untuk menyimpulkan sesuatu.
Atau, mungkin
memang saya yang belajar ulang hal-hal yang sudah kuanggap tahu.
No comments:
Post a Comment