Tuesday, September 1, 2026

Sumber Kecerdasan

Bahwa kecerdasan bukan hanya dari sekolah, saya rasa kita harus bersepakat dengan pernyataan tersebut. Apalagi dengan semakin sadarnya orang-orang bahwa kecerdasan ada banyak macamnya.

Aneka macam kecerdasan yang meliputi linguistik, logic-matematik, visual-spasial, kinestetik-jasmani, interpersonal, intrapersonal, musikal, naturalis, dan eksistensial, di belahan dunia manapun, sangat mungkin bahwa kecerdasan-kecerdasan tersebut bukan hanya berasal dari sekolah.

Kita tahu bahwa Thomas Alva Edison adalah salah seorang penemu paling produktif yang memiliki lebih dari 1.000 paten. Dan perlu diketahui, Thomas Alva Edison hanya bersekolah selama 3 bulan. Mungkin waktu bersekolah yang sebentar tersebut membentuk kecerdasannya. Tapi pastilah semua kecerdasan yang ia miliki tidak hanya berasal dari sekolah.

Dan yang paling baru, tentu saja adalah Pak Bahlil. Setidaknya itu yang diakui oleh Presiden Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.

Berdasar apa yang telah dicapai Pak Bahlil hingga kini, dapatlah disimpulkan bahwa beliau adalah orang yang cerdas. Dikombinasikan dengan informasi bahwa Pak Bahlil bersekolah di sekolah yang tidak terlalu terkenal, maka kecerdasan bukan hanya berasal dari sekolah adalah sebuah kesimpulan yang valid.

Namun demikian, bukan berarti fungsi sekolah dalam melahirkan, memupuk, dan mengembangkan kecerdasan boleh diabaikan. Mungkin tidak semua orang menjadi cerdas dengan bersekolah. Tapi, banyak orang yang menjadi cerdas dari bersekolah. Ya, hanya karena ada satu dari sepuluh orang yang tidak menjadi cerdas dari bersekolah, jangan abaikan bahwa ada sembilan orang yang menjadi cerdas karena bersekolah.

Secara berita, satu orang tidak menjadi cerdas dari bersekolah tentu saja lebih menjual daripada sembilan orang yang menjadi cerdas dari bersekolah.

Bahwa kecerdasan bukan hanya dari sekolah, ya kita harus sepakat. Tapi kalau pernyataan “kecerdasan bukan dari sekolah”, saya berpikir ini bisa jadi sesuatu yang tidak adil.

Dan mungkin satu hal lagi yang bisa kita sepakati adalah, kecerdasan bisa lahir karena ditempa oleh kesulitan. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang menjadi begitu kreatif saat kesulitan hidup menimpanya. Menjadi “over qualified” saat sudah kepepet.

Jadi, jika hidup dewasa ini menjadi semakin sulit. Kondisi memaksa kita untuk hidup prihatin, ya itu sebenarnya sebuah sistem untuk mencapai mis “mencerdaskan kehidupan bangsa”

Ya walaupun sebenarnya, jika sistem yang dibuat benar, proses mencerdaskan kehidupan bangsa bisa menjadi suatu kegiatan yang menantang dan menyenangkan.

No comments:

Post a Comment