Bahwa kecerdasan bukan hanya dari sekolah, saya rasa kita harus bersepakat dengan pernyataan tersebut. Apalagi dengan semakin sadarnya orang-orang bahwa kecerdasan ada banyak macamnya.
Aneka macam kecerdasan
yang meliputi linguistik, logic-matematik, visual-spasial, kinestetik-jasmani, interpersonal,
intrapersonal, musikal, naturalis, dan eksistensial, di belahan dunia manapun,
sangat mungkin bahwa kecerdasan-kecerdasan tersebut bukan hanya berasal dari
sekolah.
Kita tahu bahwa
Thomas Alva Edison adalah salah seorang penemu paling produktif yang memiliki
lebih dari 1.000 paten. Dan perlu diketahui, Thomas Alva Edison hanya
bersekolah selama 3 bulan. Mungkin waktu bersekolah yang sebentar tersebut
membentuk kecerdasannya. Tapi pastilah semua kecerdasan yang ia miliki tidak
hanya berasal dari sekolah.
Dan yang paling
baru, tentu saja adalah Pak Bahlil. Setidaknya itu yang diakui oleh Presiden
Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Berdasar apa yang
telah dicapai Pak Bahlil hingga kini, dapatlah disimpulkan bahwa beliau adalah
orang yang cerdas. Dikombinasikan dengan informasi bahwa Pak Bahlil bersekolah
di sekolah yang tidak terlalu terkenal, maka kecerdasan bukan hanya berasal
dari sekolah adalah sebuah kesimpulan yang valid.
Namun demikian,
bukan berarti fungsi sekolah dalam melahirkan, memupuk, dan mengembangkan
kecerdasan boleh diabaikan. Mungkin tidak semua orang menjadi cerdas dengan
bersekolah. Tapi, banyak orang yang menjadi cerdas dari bersekolah. Ya, hanya
karena ada satu dari sepuluh orang yang tidak menjadi cerdas dari bersekolah,
jangan abaikan bahwa ada sembilan orang yang menjadi cerdas karena bersekolah.
Secara berita, satu orang tidak menjadi cerdas dari bersekolah tentu saja lebih menjual daripada sembilan orang yang menjadi cerdas dari bersekolah.
Bahwa kecerdasan
bukan hanya dari sekolah, ya kita harus sepakat. Tapi kalau pernyataan “kecerdasan
bukan dari sekolah”, saya berpikir ini bisa jadi sesuatu yang tidak adil.
Dan mungkin satu
hal lagi yang bisa kita sepakati adalah, kecerdasan bisa lahir karena ditempa
oleh kesulitan. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang menjadi begitu
kreatif saat kesulitan hidup menimpanya. Menjadi “over qualified” saat sudah
kepepet.
Jadi, jika hidup
dewasa ini menjadi semakin sulit. Kondisi memaksa kita untuk hidup prihatin, ya
itu sebenarnya sebuah sistem untuk mencapai mis “mencerdaskan kehidupan bangsa”
Ya walaupun sebenarnya, jika sistem yang dibuat benar, proses mencerdaskan kehidupan bangsa bisa menjadi suatu kegiatan yang menantang dan menyenangkan.
No comments:
Post a Comment